Tersesat selama 15 jam di gunung Lawu

Berawal dari coba" ndaki gunung lawu via candi cetho, kita ndaki hanya 2 orang, dan itu hanya rombongan satu"nya pendaki, dikarenakan pendakian habis ditutup, dan spanduk bertuliskan pendakian ditutup untuk pendaki pun masih tertempel jelas, lalu kita tanya sama warga, dan katanya kemungkinan pdandakian udah dibuka, dan kami pun dengan bekal kata warga tadi, kita naik. Pendakian dimulai sekitar setengah sembilan malam, kita ndaki lewat dalam candi cetho, dan dilanjutkan lewat candi kethek, sebelum sampai di candi kethek, kita dihadang oleh anjing hitam yang terus menggonggong, Dan kita nekat melewati anjing itu, dan dia masih menggonggong, setelah didepan candi kethek, ternyata jalannya buntu, terus kita putar arah, dan menemukan jalur kecil, dijalur itu kita melihat lampu menyala kecil, dan kita menghampirinya, dan kita melihat tenda dome, lalu kita dekati, dan berniatan mau bertanya jalur, eh ternyata ada 4 orang berbaju putih, dan disekelilingnya ada lilin, bau disitu wangi, ada kain mori yang digelar di tengah, dan diduduki 2 orang yang kelihatanya sedang bertapa, karna pas kita tanya jalur ke 2 orang yang menjaganya,, dia berdua yang duduk bersila hanya diam saja. Dan yang mengasih tau jalan hanya dua orang yang menjaga di sampingnya, setelah itu kita menuju jalur yang tadi dikasih tau, eh tiba" ada satu orang dari 4 orang tadi menyusul kami, dan menanyakan apakah sudah ketemu jalurnya, terus kami bilang sudah, dan dia kembali berkata, kita disuruh hati-hati, terus kita melanjutkan perjalanan, dan ketemu tulisan, puncak, tapi di bawahnya ada tanda setrip berwarna merah, padahal pas siang hari setelah turun, dibawah tulisan puncah, ada anak panah warna biru dan menunjuk ke arah kiri, tapi kita tetap lurus, karna yang kita lihat pas malam itu tandanya hanya setrip warna merah,, Dan ada sebuah pralon air, terus kita mengikutinya terus, walaupun jalurnya terlalu menanjak, tak sama dengan jalur pendakian semestinya, kita tetap naik terus, ditengah perjalanan, kita mendengar kayak ada orang berteriak, dan ada juga suara anjing menggonggong, tapi hanya satu kali, terus tak terdengar lagi, tanpa berfikir panjang kita tetap melanjutkan perjalanan,, setelah 3 jam perjalanan, dan tak menemui satu pos pendakian sama sekali, terus kita tetap jalan dan mencari tempat buat ndirikan tenda dome, setelah dapat tempat, kita ndirikan dome, lalu lanjut tidur, dan selama tidur, aku bermimpi kalau aku mengulangi pendakian dari awal, ternyata jalur yang aku ambil salah dan tiba" aku terbangun karna kedinginan, terus aku tidur lagi, dan bermimpi lagi, ada seseorang bilang kalau lagi bingung dan hati gelisah, aku disuruh cari masjid dan sholat di masjid itu, katanya biar hati adem, eh tiba" aku kebangun lagi, dan udah waktunya sholat subuh, terus aku ambil tayamum, lalu sholat subuh, habis itu aku bangunin temenku, dan temenku sholat, aku masak air buat hangatin badan, terus packing, lalu nglanjutin perjalanan, dengan harapan menemukan pos pendakian, setelah setengah jam perjalanan, kita menemui jurang, terus kita ambil jalur kanan, dan sama saja, tetap menemui jurang, dan akhirnya kita putar arah, untuk balik turun,, setelah beberapa menit turun, kita melihat seorang warga, dan ternyata dia pemburu burung, terus kita bertanya, jalur pendakiannya mana ya pak. dan dia menjawab, sambil menunjukan jari telunjuknya ke sebrang jurang, dan katanya ditempat kita setara dengan pos 3, dan warga tadi memberi dua pilihan, kalau mau nemui jalur pendakian, kita turun lagi, tapi masih jauh banget. dan satunya lagi, dia ngasih tau jalur, supaya kita menemui jalur pendakian, diatas pos 3 mau sampai ke pos 4. kita disuruh nurut jalur pralon air tadi, dan ketemu jurang yang tadi, terus menuruni jurang, dan naik, nanti menemui jalur setapak, dan jalur pralon air, kita disuruh nurut pralon tadi, sampai ke sumber mata air, yang katanya sudah agak dekat, terus belok kiri turun jurang, nurut pralon yang turun, nanti udah ketemu jalur pendakian, dan udah mau sampai pos 4. dan kita mengikuti pilihan kedua, buat nurut pralon air, tapi setelah beberapa jam, kita masih belum menemukan sumber air itu,, karna kabut udah naik dan jalurnya ketutup kabut tebal, akhirnya kita pun nyerah, di titik ya setara pos 4 lah, menurut perkataan warga tadi. dan kita pun putar balik, buat turun, dan setelah sampai perkebunan warga, kita melihat tulisan puncak yang semalam kita lihat, dan anehnya dibawah tulisan itu tandanya anak panah ke kiri, dan warnanya biru, jadi bukan tanda setrip warna merah, yang seperti kita lihat semalam. dan kita lanjut turun, dan belok ke candi kethek, sama mampir ke puri, sambil foto". kita terlihat aneh sendiri, yang lain pada pakai kain putih hitam kotak", dan kita pakai pakaian seadanya dan membawa tas gunung. dan kita turun lagi ke candi cetho,, kita pun masih sama, sama anehnya, kita berbeda dari pengunjung candi lainnya. dan kita pun turun lagi, setelah sedikit berfoto, dan akhirnya kita sampai di tempat parkiran motor jam setengah 12 siang, lebih dikit, terus kita bersihin kaki, tangan, dan muka kita yang kotor, terus kita ambil motor, lalu pulang.
sekian.
nb: kalau mau ndaki, jangan seperti kita, yang gak tahu jalurnya, tetapi tetap nekat, cobalah cari pendamping yang sudah pernah ndaki lewat jalur tersebut.

Komentar

Postingan Populer